Book Appointment Now

REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM DOKUMENTER “PESTA BABI”
- On
- InOpini
Jeritan babi yang disembelih dalam dokumenter Pesta Babi mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun di balik keramaian, sorak-sorai, dan suasana pesta yang ditampilkan kamera, sesungguhnya ada sesuatu yang lebih besar sedang bekerja: kekuasaan. Dokumenter ini tidak sekadar memperlihatkan tradisi atau ritual kolektif, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia membangun dominasi, membentuk kepatuhan, dan menormalisasi kekerasan melalui budaya yang diwariskan turun-temurun.
Film dokumenter sering dianggap hanya merekam kenyataan. Padahal, sebagaimana dijelaskan Stuart Hall dalam teori representasi, media bukan sekadar cermin realitas, melainkan ruang pembentukan makna sosial (Hall, 1997). Apa yang ditampilkan kamera selalu membawa sudut pandang tertentu. Dalam konteks itu, Pesta Babi menjadi lebih dari sekadar tontonan budaya; ia tampil sebagai kritik sosial mengenai relasi kuasa yang hidup di tengah masyarakat.
Kekuasaan dalam dokumenter ini hadir secara simbolik. Ia tampak dalam siapa yang memimpin ritual, siapa yang mengatur kerumunan, siapa yang menjadi pusat perhatian, dan siapa yang dikorbankan. Michel Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk negara, aparat, atau hukuman formal. Menurutnya, “power is everywhere” (Foucault, 1980). Kekuasaan bekerja melalui praktik sehari-hari, norma sosial, dan kebiasaan yang diterima tanpa banyak pertanyaan.
Dalam Pesta Babi, masyarakat tampak menerima praktik kekerasan sebagai bagian dari tradisi. Tidak ada paksaan terbuka, tetapi semua orang terlibat dalam sistem yang sama: menonton, bersorak, mengikuti alur acara, dan membiarkan ritual berlangsung tanpa kritik. Di titik inilah kekuasaan bekerja secara halus melalui budaya dan penerimaan sosial. Apa yang diwariskan turun-temurun akhirnya dianggap wajar, bahkan ketika mengandung unsur dominasi dan kekerasan simbolik.
Dokumenter ini juga memperlihatkan bagaimana keramaian dapat menghilangkan sensitivitas manusia. Guy Debord dalam The Society of the Spectacle menyebut bahwa masyarakat modern hidup dalam budaya tontonan, ketika realitas berubah menjadi konsumsi visual (Debord, 1994). Orang tidak lagi sibuk memahami makna suatu peristiwa, melainkan menikmati sensasi yang ditampilkan di depan mata.
Fenomena itu terasa dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini. Publik menikmati konflik politik, kekerasan sosial, hingga tragedi kemanusiaan sebagai konsumsi media sehari-hari. Media sosial dipenuhi pertunjukan emosi, keributan, dan drama publik yang terus dikonsumsi tanpa refleksi mendalam. Dalam situasi seperti itu, manusia perlahan kehilangan empati karena terlalu terbiasa menjadi penonton.
Pesta Babi secara tidak langsung memperlihatkan kondisi tersebut. Kamera tidak hanya merekam seekor babi yang menjadi korban, tetapi juga merekam wajah manusia yang larut dalam pesta kolektif. Dokumenter ini seperti ingin bertanya kepada penonton: apakah kita benar-benar sadar terhadap apa yang sedang kita saksikan? Ataukah kita telah menjadi bagian dari budaya yang menikmati kekerasan tanpa lagi mempertanyakan nilai kemanusiaannya?
Menariknya, dokumenter ini tidak tampil menggurui. Ia tidak menawarkan kesimpulan hitam-putih mengenai benar atau salah. Sebaliknya, film ini membiarkan gambar dan suasana berbicara sendiri. Bill Nichols menyebut dokumenter sebagai representasi realitas, bukan realitas itu sendiri (Nichols, 2010). Dengan kata lain, dokumenter selalu mengandung perspektif pembuat film dan diarahkan untuk membangun kesadaran tertentu pada penonton.
Pada akhirnya, Pesta Babi bukan sekadar dokumenter tentang penyembelihan hewan atau tradisi masyarakat tertentu. Film ini adalah refleksi tentang bagaimana manusia membangun relasi kuasa melalui ritual kolektif, serta bagaimana publik sering kali tanpa sadar menjadi bagian dari sistem tersebut. Dokumenter ini mengingatkan bahwa kekuasaan paling kuat bukanlah yang memaksa dengan kekerasan, melainkan yang berhasil membuat manusia menerima sesuatu tanpa lagi merasa perlu mempertanyakannya.
Daftar Pustaka
Debord, G. (1994). The Society of the Spectacle. New York: Zone Books.
Foucault, M. (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings. New York: Pantheon Books.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publications.
Nichols, B. (2010). Introduction to Documentary. Bloomington: Indiana University Press.
Independent Writer oleh: [Bashori_Akademisi UIN Imam Bonjol Padang]

