Book Appointment Now

DI BALIK KASUS LCC PILAR MPR: ADA RELASI GURU DAN MURID YANG SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA
- On
- InOpini
Kasus Lomba Cerdas Cermat (LCC) Pilar MPR yang belakangan menjadi perhatian publik semestinya tidak dibaca sebagai insiden biasa dalam dunia pendidikan. Ia bukan sekadar soal perlombaan, bukan sekadar polemik teknis kegiatan sekolah, dan bukan pula sekadar persoalan kedisiplinan peserta didik. Di balik peristiwa itu, tersingkap persoalan yang jauh lebih mendasar: rapuhnya relasi antara guru dan murid di ruang pendidikan kita.
Reaksi publik yang begitu besar menunjukkan satu hal penting masyarakat mulai sadar bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan relasi kemanusiaan. Ketika relasi itu retak, maka yang terganggu bukan hanya suasana belajar, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.
Menariknya, di saat yang hampir bersamaan, instrumen akreditasi terbaru justru mulai menempatkan aspek interaksi guru dan murid sebagai indikator utama mutu sekolah. Pada indikator 1.1.1 Interaksi yang Setara dan Saling Menghargai (Instrumen Akreditasi, 2024), sekolah diwajibkan menghadirkan proses belajar yang membuat murid merasa aman untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan tidak takut salah. Bahkan, subindikatornya menekankan pentingnya percakapan bermakna, penggunaan bahasa yang menghargai, dan hadirnya rasa didengar dalam diri peserta didik.
Artinya, negara mulai menggeser paradigma mutu pendidikan: sekolah tidak lagi cukup dinilai dari angka dan administrasi, tetapi juga dari kualitas hubungan manusia di dalamnya.
Namun di lapangan, banyak ruang kelas kita masih dibangun dengan pola relasi lama hierarkis, satu arah, dan menempatkan guru sebagai otoritas absolut. Murid sering kali diposisikan hanya sebagai penerima instruksi, bukan subjek yang memiliki suara. Dalam situasi seperti ini, pendidikan rentan berubah menjadi ruang tekanan psikologis.
Paulo Freire menyebut model semacam ini sebagai banking education, yakni pendidikan gaya “bank” di mana guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan, sementara murid hanyalah “wadah kosong” yang harus diisi. Freire menilai pola tersebut melahirkan relasi dominatif dan mematikan dialog. Menurutnya, pendidikan sejati hanya mungkin terjadi melalui hubungan yang dialogis dan setara antara pendidik dan peserta didik (Freire, 1970).
Kasus LCC Pilar MPR menunjukkan bahwa persoalan dialog di sekolah kita masih belum selesai. Dalam banyak praktik pendidikan, suara murid belum benar-benar dihargai. Mereka dituntut disiplin, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk didengar. Mereka diminta aktif, tetapi sering takut salah. Akibatnya, ruang belajar kehilangan unsur paling penting dalam pendidikan modern: psychological safety.
Amy Edmondson menjelaskan bahwa psychological safety adalah kondisi ketika seseorang merasa aman untuk berbicara, bertanya, atau melakukan kesalahan tanpa takut dipermalukan atau dihukum (Edmondson, 2019). Dalam konteks pendidikan, rasa aman psikologis menjadi syarat dasar tumbuhnya keberanian berpikir kritis dan kreativitas murid. Tanpa itu, sekolah hanya akan menghasilkan kepatuhan semu, bukan pembelajaran yang bermakna.
Masalahnya, kultur pendidikan kita terlalu lama menempatkan ketegasan identik dengan kekerasan verbal. Bentakan, labelisasi, atau komunikasi yang merendahkan masih sering dianggap wajar demi menjaga disiplin. Padahal, instrumen akreditasi terbaru justru secara eksplisit menegaskan pentingnya penggunaan diksi yang menghargai murid.
Teori Nonviolent Communication dari Marshall Rosenberg menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat pembentuk relasi sosial (Rosenberg, 2003). Bahasa yang menghakimi akan melahirkan rasa takut dan perlawanan, sementara komunikasi empatik membangun keterbukaan dan rasa percaya. Dalam dunia pendidikan, pilihan kata guru dapat menentukan apakah ruang kelas menjadi tempat bertumbuh atau justru ruang trauma.
Di sinilah kasus LCC Pilar MPR menjadi relevan untuk dibaca sebagai refleksi pendidikan nasional. Peristiwa ini memperlihatkan adanya benturan antara paradigma pendidikan lama yang berbasis kontrol dengan paradigma baru yang lebih humanistik.
Carl Rogers dalam teori pendidikan humanistik menegaskan bahwa proses belajar akan efektif ketika peserta didik merasa diterima dan dihargai sebagai manusia (Rogers, 1969). Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi fasilitator pertumbuhan personal murid. Ketika relasi guru dan murid dibangun di atas rasa takut, maka pendidikan kehilangan fungsi pembebasannya.
Lebih jauh, Abraham Maslow melalui teori hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia sebelum mencapai aktualisasi diri (Maslow, 1943). Murid yang tidak merasa aman secara emosional akan sulit berkembang secara optimal, bahkan jika secara akademik mereka tampak berprestasi.
Karena itu, masuknya indikator “interaksi setara dan saling menghargai” dalam instrumen akreditasi sesungguhnya merupakan langkah progresif. Negara sedang mengirim pesan kuat bahwa mutu sekolah tidak lagi hanya diukur dari gedung megah, kelengkapan administrasi, atau nilai ujian, tetapi juga dari cara sekolah memperlakukan murid.
Sayangnya, perubahan paradigma ini belum sepenuhnya diikuti perubahan kultur di sekolah. Banyak guru masih dibebani target administratif dan capaian akademik, tetapi minim pelatihan tentang komunikasi empatik, pengelolaan emosi, atau pendekatan restoratif dalam pendidikan. Akibatnya, ruang kelas sering gagal menjadi ruang dialog. Mungkin saja oknum juri dan master of ceremony (MC) produk dari kegagalan Lembaga Pendidikan yang mampu membangun komunikasi yang setara dan sling menghargai.
Padahal, Ki Hadjar Dewantara sejak awal telah menegaskan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun” tumbuhnya anak sesuai kodratnya, bukan menekan mereka dengan rasa takut (Dewantara, 1977). Pendidikan yang memerdekakan mensyaratkan adanya penghormatan terhadap martabat peserta didik.
Kasus LCC Pilar MPR akhirnya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa krisis terbesar pendidikan kita hari ini mungkin bukan rendahnya literasi atau ketertinggalan teknologi, melainkan hilangnya relasi kemanusiaan di ruang kelas dan bahkan celakanya akan berdampak secara berkelanjutan pada relasi sosial di luar sana sebagaiman mana pada kasus LCC Pilar MPR.
Dan ketika sekolah gagal menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan dialog, maka sesungguhnya yang sedang runtuh bukan hanya hubungan guru dan murid melainkan fondasi pendidikan itu sendiri.
Daftar Pustaka
Dewantara, Ki Hadjar. 1977. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Edmondson, Amy C. 2019. The Fearless Organization: Creating Psychological Safety in the Workplace for Learning, Innovation, and Growth. New Jersey: Wiley.
Freire, Paulo. 1970. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Maslow, Abraham H. 1943. “A Theory of Human Motivation.” Psychological Review, Vol. 50, No. 4.
Panduan Penjelasan Instrumen Akreditasi 2024 untuk SD/MI, SMP/MTS/, SMA/MA, Versi 2025,
Rogers, Carl R. 1969. Freedom to Learn. Ohio: Charles Merrill Publishing Company.
Rosenberg, Marshall B. 2003. Nonviolent Communication: A Language of Life. California: PuddleDancer Press.
Independent Writer oleh: (Bashori_Akademisi UIN Imam Bonjol Padang)

