Book Appointment Now

MENUTUP PROGRAM STUDI “TAK RELEVAN”: LOGIKA INDUSTRI YANG TERLALU SEDERHANA
- On
- InEducation
Belakangan ini, muncul dorongan yang semakin keras untuk menutup program studi yang dianggap “tidak relevan dengan kebutuhan industri”. Sekilas, gagasan ini terdengar masuk akal: untuk apa mempertahankan prodi yang lulusannya sulit terserap pasar kerja?
Namun, justru di sinilah letak masalahnya—kita sedang mereduksi pendidikan tinggi menjadi sekadar pabrik tenaga kerja.
Ketika Kampus Dipaksa Menjadi Pabrik
Logika di balik penutupan prodi ini berakar pada cara pandang ekonomi klasik: pendidikan adalah investasi untuk meningkatkan produktivitas (Becker, human capital theory). Dalam perspektif ini, nilai suatu program studi diukur dari seberapa cepat lulusannya mendapat pekerjaan.
Masalahnya, industri bukan entitas yang stabil. World Economic Forum berulang kali menunjukkan bahwa lanskap pekerjaan berubah drastis dalam hitungan tahun. Banyak pekerjaan hari ini akan hilang, dan pekerjaan baru akan muncul—sering kali belum kita kenal.
Jika kampus hanya mengikuti kebutuhan industri saat ini, maka ia akan selalu tertinggal. Ironisnya, kebijakan menutup prodi “tidak relevan” justru berpotensi membuat pendidikan semakin tidak relevan di masa depan.
“Tidak Relevan” Menurut Siapa?
Istilah “tidak relevan” sendiri problematis. Relevansi diukur dengan parameter apa?
- Apakah filsafat tidak relevan karena tidak menghasilkan programmer?
- Apakah sejarah tidak relevan karena tidak langsung menciptakan startup?
- Apakah sastra tidak relevan karena tidak masuk daftar kebutuhan industri manufaktur?
Padahal, berbagai laporan global menunjukkan bahwa keterampilan paling dibutuhkan justru adalah berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan memahami kompleksitas sosial—kompetensi yang banyak dibentuk oleh disiplin ilmu yang kini justru terancam.
Dengan kata lain, kita sedang menyebut “tidak relevan” pada bidang yang diam-diam menjadi fondasi kemampuan manusia menghadapi perubahan.
Bahaya Berpikir Jangka Pendek
Menutup program studi karena alasan pasar kerja adalah bentuk short-termism—berpikir dangkal yang terjebak pada kebutuhan sesaat.
Sejarah sudah berulang kali menunjukkan bahwa inovasi besar lahir dari bidang yang dulu dianggap “tidak praktis”. Ilmu matematika murni, misalnya, pernah dianggap abstrak dan tidak berguna—hingga akhirnya menjadi fondasi teknologi digital modern.
Jika logika “relevansi industri” diterapkan secara kaku sejak dulu, mungkin kita tidak akan memiliki banyak terobosan ilmu pengetahuan hari ini.
Masalahnya Bukan Prodi, Tapi Cara Mengelolanya
Alih-alih menutup prodi, persoalan yang sebenarnya adalah kegagalan sistem pendidikan dalam beradaptasi:
- Kurikulum yang kaku dan usang
- Minimnya kolaborasi dengan dunia nyata
- Kurangnya integrasi lintas disiplin
Menutup prodi adalah solusi instan yang menghindari akar masalah. Ini seperti menutup rumah karena atapnya bocor, alih-alih memperbaikinya.
Kampus Bukan Sekadar Penyedia Tenaga Kerja
Ada hal yang sering dilupakan dalam diskursus ini: perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar memenuhi pasar kerja.
Ia adalah penjaga peradaban, tempat lahirnya kritik, etika, dan pemikiran alternatif. Jika semua prodi harus tunduk pada logika industri, maka kampus kehilangan independensinya—dan pada titik itu, kita tidak lagi memiliki pendidikan tinggi, melainkan pusat pelatihan kerja.
Penutup: Siapa yang Harus Berubah?
Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: prodi mana yang harus ditutup?
Melainkan: mengapa sistem pendidikan kita gagal membuat semua prodi menjadi relevan dalam cara yang lebih luas?
Karena relevansi sejati bukan soal mengikuti industri, tetapi membentuk manusia yang mampu menciptakan masa depan—bukan sekadar menyesuaikan diri dengannya.
Menutup program studi mungkin terlihat tegas dan efisien. Tapi sering kali, itu hanyalah cara cepat untuk menyembunyikan persoalan yang lebih dalam.
Dan seperti banyak solusi instan lainnya—ia berisiko menyelesaikan masalah hari ini dengan mengorbankan masa depan.


